Senin, 10 Agustus 2009

Ketika Dia Bukan Untukmu

Bagaimana perasaanmu jika seseorang yang direncanakan
akan menjadi pendamping hidupmu ternyata menikah
dengan sahabatmu sendiri? Mungkin hatimu nelangsa. Ada
sejumput kecewa berkecambah. Andai dulu aku menerima
dia apa adanya, pasti aku yang bersanding dengannya,
begitu bisik hatimu.

Kini, kau melihat dia bersanding dengan teman baikmu.
Kau harus rela; ikhlas. Mungkin dia memang lebih baik
bersanding dengan sahabatmu. Karena kecewa telah
berbunga, kau tak datang ke pesta pernikahannya.
Padahal, hukum datang ke undangan pernikahan itu
wajib. Di sana ada berkah dan doa, meskipun yang
sering kita lihat hanya pamer kemewahan dan
kemeriahan.

Coba kita renungkan. Mungkin kau pernah berkunjung ke
toko pakaian. Kau memilih pakaian yg pas untukmu.
Mungkin pramuniaga menyarankan, "ini pakaian yg cocok
untuk Anda." Kau membawa pakaian itu ke fiiting room,
mencobanya. Betulkah pakaian itu cocok untukmu? Kau
teliti bahannya, jahitannya, ukurannya. Setelah
memeriksa dgn seksama, kau merasa kurang sreg dgn
pakaian itu. Dengan kata maaf pada parmuniaga, kau
kembalikan pakaian itu ke tempatnya. Kau beralih ke
gerai pakaian lain. Hal yg sama mungkin terulang;
pakaian yg menurut orang lain pas untukmu, atau
pakaian yg sepintas cocok menurutmu, ternyata tidak
tepat setelah diteliti.

Sebuah pakaian, mungkin cocok untuk orang lain, tapi
tak cocok untukmu. Kau tak bisa membeli pakaian warna
gelap krn kulitmu sawo matang. Kau tak cocok
mengenakan kemeja dgn motif vertikal berdempet, krn
posturmu kurus tinggi; motif itu akan membuatmu
terlihat semakin kurus. Kau harus berdamai dgn situasi
dan kondisi.

Tetapi yakinlah ada pakaian yg tepat disebuah gerai
tertentu yg cocok untuk setiap orang. Memang ada
seseorang yg begitu masuk ke satu gerai langsung
menemukan pakaian yg tepat untuknya. Ada juga yg harus
berputar-putar, keluar-masuk dr satu gerai ke gerai
lainnya untuk menemukan pakaian yg tepat, sampai kaki
pegal dan peluh menganak sungai. Banyak hal yg membuat
pakaian itu tak tepat untukmu, bisa bahan, motif,
warna, model bahkan harga. Selera orang berbeda.

Ada juga seseorang yg tak yakin dgn sebuah pakaian,
tapi ia tetap mencobanya. Ia bertanya-tanya, cocokkah
pakaian ini untukku? Ia meneliti dgn seksama. Ia
menemukan fakta bahwa tak ada hal yg membuat ia harus
menolak pakaian itu. Apalagi pakaian itu hadiah
seorang yg dihormatinya, orang yg dikasihinya atau
mumpung sedang ada great sale! Beli sekarang atau
menyesal kemudian. Bertahun-tahun setelah mengenakan
pakaian itu, baru terasa, pakaian itu memang cocok
untuknya.

Pakaianmu, pasangan untukmu. Bisa cocok untuk orang
lain, tapi tidak dgnmu. Maka, tak perlu bersedih jika
seseorang yg kau kira tepat untukmu bersanding dgn
orang lain; orang yg dekat denganmu. Yakinlah pasangan
yg tepat ada di suatu tempat dan kau akan berjumpa
dgnnya disuatu masa tertentu. Mungkin Yang Kuasa
sengaja menyimpannya, agar saat bertemu kau
benar-benar siap berdampingan dgnnya. Sesuatu yg baik
menurutmu, belum tentu baik menurut-Nya. Terus
berusaha dan berdoa. Perbaiki diri sampai akhirnya kau
temukan pakaian yang cocok untukmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar